JENEWA, (PRLM).- Mayoritas pemilih Swiss menolak usulan penambahan waktu cuti minimal tahunan dalam referendum nasional yang digelar di negara itu. Rencananya para pekerja berhak memperoleh cuti minimal tahunan selama enam pekan dalam setahun, tetapi kalangan pengusaha khawatir usulan itu akan merugikan mereka secara ekonomi.
Dua pertiga pemilih dilaporkan menolak kenaikan cuti minimal tahunan, yang semula empat pekan dan diusulkan menjadi enam pekan, seperti yang telah dijalankan sebagian negara-negara Eropa Barat.
Referendum merupakan bagian penting sistem demokrasi langsung yang dipraktikkan Swiss. Warga Swiss dapat mengajukan berbagai persoalan dalam referendum, mulai menyangkut undang-undang, anggaran, atau persoalan penting lainnya yang sedikitnya didukung 100.000 warga Swiss.
Dan pada referendum kali ini, selain isu cuti tahunan, warga Swiss juga disita perhatiannya pada persoalan pendirian "kotak seks", tempat wanita tuna susila menjalankan profesinya. Mayoritas warga Zurich disebutkan memberikan lampu hijau terhadap ide ini.
Sesuai rencana, "kotak seks" itu akan diletakkan di wilayah pinggiran kota, yaitu berupa ruang parkir khusus yang berdinding, di mana pekerja seks dan konsumennya dapat bertransaksi.
Sementara di Jenewa, mayoritas warga kota itu mendukung pembatasan waktu dalam berunjuk rasa. Jika dilanggar, mereka setuju pelakunya dikenai denda yang berat.
Pilihan ini diambil warga Jenewa, tidak terlepas dari keberadaan sejumlah badan dunia di kota itu, mulai Kantor Dewan Hak Asasi Manusia PBB, Komite Palang Merah Internasional, dan berbagai organisasi internasional besar lainnya, yang selalu menjadi titik fokus para demonstran, selama ini.(bbc/A-147)***
anefcakep 12 Mar, 2012
-
Source: http://www.pikiran-rakyat.com/node/180350
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com
RSS Feed
Twitter
Facebook