KANDAHAR, (PRLM).- Semua orang selalu berharap untuk mendapat kehidupan yang lebih baik. Begitu juga dengan harapan warga Kandahar Abdul Samad (60) dan keluarga besarnya yang pada tahun lalu memutuskan pindah dari kampung halamannya di selatan Afganistan ke Panjwai, Kandahar.
Di kampung asalnya itu, kata Samad, Taliban selalu membuat keonaran sehingga dia khawatir keluarganya suatu saat akan menjadi korban.
Oleh karena itu, didorong tekad kuat untuk mendapatkan keamanan dan hidup yang lebih baik, Samad beserta keluarganya itu pun memilih menetap di Kandahar. Apalagi tempat tinggal barunya di Kandahar itu dekat dengan markas militer Amerika Serikat.
Samad pun merasa semakin plong dan tentram karena yakin keluarganya akan aman dari serangan Taliban. Samad yakin, dia dan keluarganya kini akan aman dari serangan Taliban. Toh, rumahnya yang baru pun kini dekat dengan militer AS, yang selama ini keberadaannya di negara penghasil opium terbesar di dunia itu adalah untuk menjaga keamanan warga dari serang pemberontak termasuk Taliban.
Namun, kenyataan berkata lain. Seperti dilaporkan New York Times, Selasa (13/3), pada Minggu (13/3) pagi lalu, saat Samad memasuki rumahnya usai jalan pagi, dia sangat terkejut menyaksikan 11 anggota keluarganya bergelimpangan di ruang tamu dan berlumuran darah.
Hatinya begitu terguncang melihat kondisi sejumlah anggota keluarganya itu dengan luka tembak pada kepala mereka. Samad begitu terpukul karena baru saja tahun lalu dia pindah ke Kandahar untuk mendapatkan rasa aman. Namun, justru di kota itulah, keluarganya mengalami kenahasan.
Semula Samad mengira, itu adalah aksi Taliban yang memang selama ini sangat dibencinya. Akan tetapi, saat para tetangga mulai berdatangan dan aparat keamanan pun menginvestigasi kasus itu, dia pun menyadari bahwa pelakunya bukan Taliban, melainkan tentara Amerika.
Samad terhenyak dan tidak percaya bahwa anggota keluarganya akan mati di tangan tentara Amerika yang selama ini dia yakini akan menjadi penjaga keamanan bagi keluarganya itu. Samad pun sangat terpukul dan marah karena 11 anggota keluarganya kini sudah tiada, tewas ditembak tentara Amerika yang stress.
Samad bertanya, mengapa kejadian itu harus menimpa keluarganya. Mengapa harus keluarganya yang mejadi sasaran? Masih banyak pertanyaan bergelut dalam benak Samad. (A-133/A-108)***
dasline 14 Mar, 2012
-
Source: http://www.pikiran-rakyat.com/node/180607
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com
RSS Feed
Twitter
Facebook