OFUNATO, (PRLM).- Kendati mulai pulih pascabencana tsunami setahun lalu, Jepang tampaknya masih berusaha mengatasi masalah ekonomi dan politik akibat musibah dahsyat itu.
Dalam hal ini, krisis nuklir Fukushima telah menelanjangi kebobrokan kebijakan nuklir Jepang, khususnya terkait dengan sistem keamanan nuklirnya. Bencana Fukushima telah menunjukkan bahwa industri energi nuklir negara Sakura tersebut memiliki sejumlah kelemahan dalam sistem regulasi dan standar keamanannya.
Selain itu, seperti dilansir Yahoo News, Minggu (11/3), meskipun sebagian besar puing akibat bencana tsunami dan gempa itu sudah dibersihkan, sejumlah warga masih mengeluhkan lambannya proses pemulihan.
Hal ini telah menyebabkan kemarahan di kalangan sejumlah warga setempat yang sampai saat ini masih tinggal di pengungsian. Pasalnya, tempat tinggal mereka masih belum aman dari efek radiasi nuklir.
Dilaporkan, akibat tsunami dan kebocoran reaktor nuklir, sekitar 326 ribu warga Jepang kehilangan tempat tinggal dan mereka ini tidak tahu kapan dapat kembali ke kampung halaman mereka masing-masing "Wilayah ini (Ofunato-red) dulunya sangat indah. Jika bukan karena ledakan nuklir, kami masih akan tinggal di sini," kata warga asal Ofunato,Tomoe Kimura (93) yang kehilangan empat anggota keluarganya akibat tsunami tersebut, yang dua di antaranya sampai saat ini masih belum ditemukan.
Di Kota pelabuhan Ofunato tersebut, tercatat sedikitnya 420 orang meninggal dan puluhan lainnya hilang. (A-133/A-26).****
jft 12 Mar, 2012
-
Source: http://www.pikiran-rakyat.com/node/180312
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com
RSS Feed
Twitter
Facebook